Rabu, 22 November 2017

STRESS, KECEMASAN DAN FRUSTASI (KLP 6)



STRESS, KECEMASAN DAN FRUSTASI

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Olahraga adalah sebuah yang ditinjau dari berbagai dimensi. Olahraga selaim dimensi fisik olahraga juga dikaji dari dimensi psikis. Dimensi psikis atau jiwa dalam aktivitas jasmani dan olahraga merupakan bagian terpenting dalam penampilan seorang olahragawan. Beberapa keadaan psikologis yang terjadi pada olahragawan sangatlah kompleks. Kompleksitas tubuh manusia dalam menghadapi respon dan tekanan merupakan kondisi yang sering terjadi dalam aktivitas jasmani dan olahraga.
Setiap atlet atau pemanin ingin mencapai yang terbaik dan berusaha mendapatkan apa yang terbaik berdasarkan kemampuan-kemampuannya sendiri. Setiap atlet memiliki sumber daya untuk mencapai suatu prestasi. Sumber daya tersebut terwujud dalam potensi jasmaniah-rohaniah. Potensi ini sangat menentukan dalam pencapaian prestasi. Disamping itu terdapat faktor lain diluar diri atlet yang juga dapat mempengaruhi prestasi, misalnya cuaca (temperatur), tempat pertandingan, alat-alat dan sebagainya
Semua atlet akan selalu dihadapkan pada sejumlah stimulus yang memberikan pengalaman stress terhadap dirinya. Dalam dunia olahraga khususnya olahraga kompetitif, atlet harus mempunyai kemampuan dalam mengatasi berbagai stimulus yang berpotensi memberikan pengalaman stress terhadap dirinya seperti sorakan dan cemoohan penonton, perasaan sakit akibat terjadi cedera, kekalahan dalam berbagai pertandingan, kelemahan yang dimiliki atlet baik kelemahan fisik maupun kelemahan mental, atau sumber-sumber lain yang mengakibatkan terjadinya stress.
Atlet yang aktif dalam dunia olahraga baik atlet daerah, nasional,  atau internasional harus mempunyai kemampuan dalam coping stress, sehingga atlet mampu dengan cepat mengatasi dan menyesuaikan diri terhadap tuntutan lingkungan baik internal maupun eksternal, atau berbagai permasalahan dan aspek-aspek yang kurang menyenangkan yang diterima oleh diri atlet.
Dalam mempersiapkan atlet atau pemain menghadapi pertandingan, arah pembenahan adalah penigkatkan faktor fisik yang mencakup kondisi fisiologis, teknis dan psikis. Dengan kata lain, seorang atlet harus dibekali keterampilan motorik (motorskill), kondisi fisiologis serta kesiapan aspek psikologis yang maksimal.












A.   Rumusan masalah

1.    Defenisi stress, kecemasan dan prustasi?
2.    Sumber-sumber timbulnya stress,kecemasan dan prustasi?
3.    Bagaimana cara penanggulangan stress,kecemasan dan prustasi?
4.    Stress, kecemasan dan prustasi dalam pertandingan?



B.Tujuan

1.    Menyajikan pembahasan singkat tentang pengaruh aspek psikologis terhadap penampilan atau prestasi seseorang dalam melaksanakan tugasnya, dalam hal ini pemain atau atlet waktu menghadapi dan melaksanakan suatu pertandingan.
2.    Mencoba membahas hal-hal yang berkaitan dengan ketegangan (stress, kecemasan dan frustasi) dalam berolahraga.
3.    Memberikan solusi tentang bagaimana cara menanggulangi stress, kecemasan dan frustasi.

C. Manfaat

1.    Dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Psikologi Olahraga.
2.    Sebagai media menambah pengetahuan kami selaku penulis tentang pskologi olahraga khususnya mengenai keadaan emosional seseorang / atlet.
























BAB II
PEMBAHASAN
A.DEFENISI
1. Stress
Berbagai defenisi mengenai Stress telah dikemukakan oleh para ahli dengan versinya masing-masing, walaupun pada dasarnya antara satu defenisi dengan defenisi lainnya terdapat inti persamaannya. Selye (1976) mendefinisikan Stress sebagai “the nonspesific response of the body to any demand”, sedangkan Lazarus (1976) mendefinisikan “stress occurs where there are demands on the person which tax or exceed his adjustive resources” (Golberger & Breznitz, 1982, hal. 39). Dari kedua defenisi diatas tampak bahwa Stress lebih dianggap sebagai respon individu terhadap tuntutan yang dihadapinya. Tuntutan-tuntutan tersebut dapat dibedakan dalam dua bentuk, yaitu tuntutan internal yang timbul sebagai tuntutan fisiologis dan tuntutan eksternal yang muncul dalam bentuk fisik dan social. Hans Selye (1950) juga menambahkan bahwa tidak ada aspek tunggal dari stimulus lingkungan yang dapat mengakibatkan stress, tetapi semua itu tergabung dalam suatu susunan total yang mengancam keseimbangan (homeostatis) individu. Hans Selye (1950) mengembangkan konsep yang dikenal dengan Sindrom Adaptasi Umum (General Adaptation Syndrome) yang menjelaskan bila seseorang pertama kali mengalami kondisi yang mengancamnya, maka mekanisme pertahanan diri (defence mechanism) pada tubuh diaktifkan.
Kelenjar-kelenjar tubuh memproduksi sejumlah adrenalin cortisone dan hormon-hormon lainnya serta mengkoordinasikan perubahan-perubahan pada sistem saraf pusat. Jika tuntutan-tuntutan berlangsung terus, mekanisme pertahanan diri berangsur-angsur akan melemah, sehingga organ tubuh tidak dapat beroperasi secara adekuat. Jika reaksi-reaksi tubuh kurang dapat berfungsi dengan baik, maka hal itu merupakan awal munculnya penyakit “gangguan adaptasi”. Penyakit-penyakit tersebut muncul dalam bentuk maag, serangan jantung, tekanan darah tinggi, atau keluhan-keluhan psikosomatik lainnya.
Lazarus dan Launier (1978) mengemukakan tahapan-tahapan proses stress sebagai berikut :
·         Stage of Alarm
Individu mengidendentifikasi suatu stimulus yang membahayakan. Hal ini akan meningkatkan kesiapsiagaan dan orientasinyapun terarah kepada stimulus tersebut.
·         Stage of Appraisals
Individu mulai melakukan penilaian terhadap stimulus yang mengenainya. Penilaian ini dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman individu tersebut.
·         Stage of Searching for a Coping Strategy
Konsep ‘coping’ diartikan sebagai usaha-usaha untuk mengelola tuntutan-tuntutan lingkungan dan tuntutan int internal serta mengelolah konflik antara berbagai tuntutan tersebut. Tingkat kekacauan yang dibangkitkan oleh satu stresor (sumber stress) akan menurun jika individu memiliki antisipasi tentang cara mengelola atau menghadapi stresor tersebut, yaitu dengan menerapkan strategi ‘coping’ yang tepat. Strategi yang akan digunakan ini dipengaruhi oleh pengalaman atau informasi yang dimiliki individu serta konteks situasi dimana stress tersebut berlangsung.

·         Stage of The Stress Response
Pada tahap ini individu mengalami kekacauan emosional yang akut, seperti sedih, cemas, marah, dan panik. Mekanisme pertahanan diri yang digunakan menjadi tidak adekuat, fungsi-fungsi kognisi menjadi kurang terorganisasikan dengan baik, dan pola-pola neuroendokrin serta sistem syaraf otonom bekerja terlalu aktif. Reaksi-reaksi seperti ini timbul akibat adanya pengaktifan yang tidak adekuat dan reaksi-reaksi untuk menghadapi stress yang berkepanjangan. Dampak dari keadaan ini adalah bahwa individu mengalami disorganisasi dan kelelahan baik mental maupun fisik.
Disamping membagi stress kedalam tahap-tahap diatas, Lazarus juga membedakan istilah istilah harm-loss, threat, dan challenge. Harm-loss dan threatmemiliki konotasi negatif. Keduanya dibedakan berdasarkan perspektif waktunya.Harm-loss digunakan untuk menerangkan stress yang timbul akibat antisipasi terhadap suatu situasi. Baik stress akibat harm-loss maupun threat pada umumnya akan dapat berupa gangguan fisiologis maupun gangguan psikologis. Di lain pihak, challenge(tantangan) berkonotasi positif. Artinya, stress yang dipicu oleh situasi-situasi yang dipersepsikan sebagai tantangan oleh individu tidak diubah menjadi strain. Dampaknya tehadap tingkah laku individu, misalnya tampilan kerjanya menjadi positif.
Dalam olahraga kompetitif, atlet harus mampu mengelola tuntutan-tuntutan dengan mengidentifikasi kemampuannya. Efektifitas coping dalam olahraga merupakanproses penyesuaian dengan penampilan atlet di dalam aktivitas olahraga, maksudnyaatlet melakukan coping terhadap situasi-situasi yang mengakibatkan munculnya perasaan stress dan cemas. Dalam situasi tersebut, aspek harus yang terlibat adalahkognitif, emosional, psikologis, dan komponen perilaku sebagai kompetensi yang dimiliki atlet. Setiap sistem tersebut, merupakan kemampuan (sumber-sumber, perilaku coping) yang mampu mengatasi tuntutan-tuntutan yang mengakibatkan stress.
            Madden (1995) menjelaskan bahwa kesehatan (health) merupakan salah satu sumber coping secara umum. Pernyataan tersebut, mengandung makna bahwa memelihara kesehatan dengan baik merupakan sumber coping karena secara fisik dan psikis setiap atlet akan siap menghadapi berbagai tuntutan yang datang pada dirinya. Upaya yang bisa dilakukan adalah berlatih secara teratur dan melakukan kegiatan relaksasi.
Latihan merupakan salah satu metoda coping dalam keadaan stress, stress dapat dikurangi dengan melakukan latihan relaksasi, sehingga gejala-gejala kecemasan seperti perasaan takut, ketegangan otot dan sebagainya  bisa dikurangi. Relaksasi juga merupakan teknik coping yang bisa mengurangi tingkat arousal atau stress. Secara teoritis, latihan relaksasi didasarkan pada prinsip Wolpe’s tentang principle of reciprocal inhibition menganggap bahwa respon-respon maladaptive (ketegangan yang diakibatkan oleh stress) dapat dihilangkan dengan menghadirkan sesuatu yang menantang atau menghambat untuk memulai dan melakukan sesuatu. Jika atlet bisa mencapai keadaan relaks, secara logika tidak konsisten dan berlawanan dengan keadaan psikologis. Selain itu, Madden (1995) mengatakan strategi kognitif seperti associative dan dissociativemerupakan strategi coping pada atlet untuk memfokuskan perhatiannya pada faktor-faktor yang relevan dengan penampilannya (associative strategy), dan pemikiran atauperasaan yang membantu untuk mengambil perhatian dari atlet pada kondisi fisiologis (dissociative strategies). Pengaruh yang signifikan pada lingkungan yang terdiri dari stimuli akan dirasakan atlet dalam pertandingan.
            Konsep coping terutama yang fokus pada kognitif, dalam prosesnya berbeda hubungannya dengan lingkungan. Oleh karena itu, sistem coping dipahami berdasarkan strategi hierarkhi yang berkembang dari yang belum matang (immature) dan mekanisme primitif yang menyimpang dari kenyataan, kepada mekanisme yang matang. Lazarus dan Folkman (1984) dalam Apruebo (1997) merumuskan strategi hierarkhi tersebutsebagai bentuk mekanisme coping yang dimulai dari paling tinggi dan meningkat pada kematangan proses ego, strategi ini merupakan mekanisme coping yang baik untuk digunakan.
2.  Kecemasan
Kecemasan (Anxiety) adalah salah satu gejala psikologis yang identik dengan perasaan negative. Beberapa ahli psikologi menjelaskan pengertian kecemasan dalam berbagai makna. Menurut Robert S. Weinberg dan Daniel Gold (2007: 78) mendefinisikan kecemasan adalah sebuah perasaan negatif yang memiliki cirri gugup, rasa gelisah, ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi, dan yang terjadi pergerakan atau kegairahan dalam tubuh. Kecemasan memiliki dua komponen yaitu terdiri dari kecemasan kognitif (cognitive anxiety) yang ditandai dengan rasa gelisah dan ketakutan akan sesuatu yang akan terjadi, sedangkan yang kedua adalah kecemasan somatik(somatic anxiety) yang ditandai dengan ukuran keadaan fisik seseorang. Sedangkan menurut Singgih D. Gunarsa(1989: 147) mendefinisikan sebagai perasaan tidak berdaya, tekanan tanpa sebab yang jelas, kabur, atau samar-samar. Sedangkan A.Budiarjo, dkk (1987: 351) menyatakan bahwa kecemasan adalah keadaan tertekan dengan sebab atau tak ada sebab yang mengerti, kegelisahan hamper selalu disertai dengan gangguan system syarat otonom dan disertai rasa mual. Kartini Kartono (1981: 116) menyatakan bahwa kecemasan adalah semacam kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan terhadap sesuatu yang tidak jelas dan mempunyai cirri yang merugikan. Rita L. Atikinson (1983: 212) mengemukakan bahwa kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan yang ditandai dengan istilah-istilah seperti kekawatiran, keprihatinan dan rasa takut yang kadang-kadang kita alami dalam tingkat yang berbeda-beda. Ahli lain Griest et all (1986) merumuskan kecemasan sebagai suatu ketegangan mental yang disertai dengan gangguan tubuh yang bersangkutan merasa tidak berdaya dan mengalami kelelahan karena senantiasa harus berbeda dalam keadaan waspada terhadap ancaman yang tidak jelas dan hamper selalu disertai gangguan pencernaan.





Sedangkan Pahlevi (1991) mendefinisikan kecemasan sebagai suatu kecendurangan untuk mempersepsikan situasi sebagai ancaman dan akan mempengaruhi tingkah laku. Handoyo (1980) menjelaskan kecemasan sebagai suatu keadaan emosional yang dialami oleh seseorang, dimana ia merasa tegang tanpa sebab-sebab yang nyata dan keadaan ini memberikan pengaruh yang tidak menyenangkan serta mengakibatkan perubahan - perubahan pada tubuhnya baik secara somatik maupun psikologis.
Dari berbagai pendapat-pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa kecemasan adalah suatu yang akan dilakukan dan belum terjadi yang ditandai dengan kekhawatiran, kurang percaya diri, kegelisahan yang kadang kala dapat mengganggu kinerja fisiologis tubuh. Kecemasan merupakan gejala psikologis yang umum terjadi dan setiap orang sadar pasti pernah mengalaminya.
Kecemasan adalah suatu rasa takut, tidak aman, tak berdaya tanpa sebab yang jelas. Jadi bukan rasa takut yang disebabkan stimulis dari lingkungan individu tersebut. Kecemasan ini mungkin datangnya dari situasi-situasi yang dikhayalkan akan terjadi.
Perasaan cemas dapat terjadi pada atlet pada waktu menghadapi keadaan tertentu, misalnya dalam menghadapi kompetisi yang memakan waktu panjang dan atlet tersebut menglami kekalahan terus-menerus.

3.Frustasi
Fustasi timbul dikarenakan merasa gagal tidak dapat mencapai suatu yang diinginkan. Setiap atlet menginginkan kepuasan yaitu itu menang; dan apabila itu tidak terwujud, maka dapat menimbulkan frustasi.
Frustasi dapat terjadi pada atlet yang mempunyai sifat pesimis maupun pada atlet yang memiliki sifat optimis yang sangat tinggi. Atlet yang mempunyai sifat pesimis dapat dikatakan “kalah sebelum berperang” karena atlet yang memiliki sifat pesimis ini mudah terkena frustasi sehingga mengalami kegagalan sedikit saja, diangapnya sebagai kegagalan yang akan terjadi dialami seterusnya.
Sedangkan apabila atlet memiliki sifat optimis yang sangat tinggi (over confidence) maka akan sangat mudah mengalami frustasi. Kegagalan yang dialaminya akan membuat atlet tersebut kecewa serta kehilangan keseimbangan emosi.

Frustasi adalah suatu harapan yang diinginkan dan kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.Misalnya putus pacar, perceraian, masalah kantor, masalah sekolah atau masalah yang tidak kunjung selesai. Frustasi inipun terjadi juga bila tujuan yang dicapai mendapatkan rintangan.Frustasi memiliki dua sisi.
1. Frustasi adalah fakta tidak tercapainya harapan yang diinginkan.
2. Frustasi adalah perasaan dan emosi yang menyertai fakta tersebut.
Pada contoh diatas adalah fakta mendapatkan nilai jelek di sekolah dan mendapat marah oleh bos dalam kesalahan di kantor. Perasaan dan emosi yang muncul adalah kesal, marah dan perasaan-perasaan lainnya yang mungkin muncul.





Akibat dari frustasi bisa munculkan gejala-gejala ketubuhan yang disebut psikosomatis.
Bayangkan anda mendapatkan nilai atau penghargaan yang tidak sesuai dengan yang anda harapkan, padahal anda sudah berusaha dengan sebaik mungkin. Seumpama anda mendapat nilai D pada ujian akhir. Ini tidak hanya terjadi sekali saja, tetapi telah beberapa kali. Anda lalu menjadi kesal bahkan marah atau muncul perasaan-perasaan lainnya. Pada malam harinya anda tidak bisa tidur. Segudang pemikiran muncul, berputar-putar silih berganti, mulai mencari sebab-sebab kegagalan, upaya mencari jalan lain supaya lebih berhasil sampai pada pemikiran-pemikiran buruk. Sehingga nantinya akan terlintas jalan pintas dan lain sebagainya. Anda mencoba untuk mengusir pemikiran-pemikiran tersebut tapi tetap saja tidak bisa dan akhirnya anda jatuh tidur karena memang betul-betul kecapaian. Pada pagi harinya anda bangun dengan tubuh yang kurang segar karena susah tidur. Selama siang hari perasaan maupun tubuh anda akan terasa tidak enak. Sekali-kali akan teringat mengenai kegagalan pada hari sebelumnya dan itu akan muncul dan mengganggu.

Namun selain contoh diatas ada juga contoh frustasi yang berakibat agresi karena frustasi yang dialami melahirkan reaksi kemarahan. Tindakan agresi diambil apabila individu merasa lebih kuat dari lawannya. Sebalinya bila individu merasa lemah, maka biasanya tindakan yang diambil ketika terjadi frustasi adalah menghindar atau melarikan diri.

B. Sumber-sumber Stress, Kecemasan dan Frustasi
Sumber-sumber stress, kecemasan dan frustasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:
a.    Sumber Intrinsik
Sumber Stress, kecemasan dan frustasi dari dalam maksudnya semuahal ini berasal dari diri atlet itu sendiri, yaitu;
o   Atlet sangat mengandalkan kemampuan tekniknya.
Bila atlet hanya mengandalkan kemampuan tekniknya, atlet tersebut akan mengalami kesulitan sebawatu menghadapi situasi pertandingan yang kurang menguntungkan bagi dirnya, misalnya menghadapi lawan yang ulet dan cermat sehingga lawan itu mampu mengantisipasi setiap serangan yang akan ia lakukan. Akibatnya atlet tersebut akan merasa terpepet dan selanjutnya tidak mampu lagi menguasai situasi yang sedang dihadapinya.
o   Atlet merasa bermain baik sekali.
Bila perasaan ini menghinggapi atlet, maka akan menjadi pertanda mulai timbul sesuatu yang menekan pada dirinya. Perasaan ini memberikan beban mental pada dirinya. Demikian juga perasaan yang sebaiknya, yang seakan-akan atlet itu telah memvonis diri sendiri bahwa ia tidak akan mencapai sukses.




o   Adanya negative thinking karena dicemooh atau dimarahi.
Dicemooh atau dimarahi akan menimbulkan reaksi pada diri atlet. Reaksi yang menekan dan menimbulkan frustasi sehingga menggangu penampilan pelaksaan tugas.


o   Adanya pikiran puas diri.
Bila dalam diri atlet ada pikiran atau perasaan puas diri maka ia telah menanamkan benih-benih ketegangan dalam diri sendiri. Atlet akan dituntut oleh diri sendiri untuk mewujudkan suatu yang mungkin berada diluar kemampuannya. Bila demikian keadaannya, sebenarnya atlet itu telah menerima tekanan yang tidak disadari.
b.    Sumber Ekstrisik
Sumber Stress, kecemasan dan frustasi dari dalam maksudnya semua hal ini berasal dari diri atlet itu sendiri, yaitu;
o   Rangsangan yang membingungkan.
Salah satu bentuk rangsangan yang membingunkan adalah komentar para official yang merasa berkompoten, baik atas koreksi, strategi atau tektik yang harus dilakukan maupun petunjuk yang lain kepada atlet. Menerima beberapa petunjuk dan perintah sekaligus akan membingungkan atlet.
o   Pengaruh massa.
Massa penonton terlebih yang masih asing, dapat mempengaruhi kestabilan mental atlet. Penonton juga memainkan peranan yang sangat berarti dalam suasana pertandingan. Salah satu cirri massa (penonton) adalah emosi yang labil. Begitu mereka mengalami kekecewaan, maka mereka akan menunjukan tindakan yang agresif berupa cemoohan terhadap atlet. Disamping pengaruh yang merugikan itu adapun pengaruh massa yang dapat membangkitkan semangat dan percaya diri, sehingga dalam situasi yang kritis atlet merasa seakan-akan mendapat “angin”, yang lalu berangsung-angsur ia mampu menguasai keadaan dan menunjukan penampilan yang lebih baik.
o   Saingan yang bukan tandingannya.
Pemain atau atlet yang mengetahui bahwa lawan yang akan dihadapi adalah pemain peringkat diatasnya atau lebih unggul daripada dirinya, maka dalam hati kecil atlet atau pemain tersebut telah timbul pengakuan akan ketidak mampuannya untuk menang. Situasi tersebut akan menyebabkan berkurangnya kepercayaan pada diri sendiri. Setiap kali berbuat kesalahan, ia semakin menyalahkan diri sendiri.
o   Kehadiran/ketidak hadiran pelatih
Atlet yang mempunyai hubungan personal dengan pelatih akan mengharapkan kehadiran pelatih selama ia bertanding. Tidak hadirnya pelatih yang sebenarnya sangat menguntungkan bagi penampilan bagi atlet tersebut. Hal ini disebabkan karena atlet merasa tidak ada orang yang dapat member dukungan pada saat-saat yang ia perlukan. Dengan support tersebut atlet akan merasa mampu menghadapi dan mengatasi situasi-situasi yang penting. Sebaliknya, ada atlet yang tidak senang akan kehadiran pelatih selama ia bertanding. Dalam hal ini pelatih harus cepat memahaminya, ahar tidak menimbulkan perasaan yang mengganggu pada diri atlet.

C. Cara Penanggulangan
Teknik-teknik untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi stress, kecemasan serta frustasi yaitu sebagai berikut:
a.    Teknik Intervensi
o   Konsentrasi (Pemusatan perhatian)
Cara ini pertama-tama menyingkirkan aneka ragam pikiran yang mengganggu atlet dan hanya memusatkan seluruh perhatian dan pikiran pada tugas yang sedang dihadapi. Memang ada atlet yang mampu dengan cepat menghalau berbagai pikiran yang mengganggu perhatian dan konsentrasinya pada pertandingan yang sedang dihadapinya, namun tidak sedikit atlet yang begitu lama termakan oleh gangguan pikirannya.
o   Pengaturan pernapasan
Pada orang yang mengalami ketegangan atau kecemasan serta respirasi akan meninggi. Keadaan seperti ini dapat diatasi dengan pernapasan yang dalam dan pelan, sehingga irama pernapasan yang semula cepat atau meninggi secara berangsur-angsur melambat atau menurun. Mengatur pernapasan juga merupakan usaha penenangan diri.
o   Relaksasi otot secara progresif
Caranya adalah melakukan kontraksi otot secara penuh kemudian dikendurkan. Latihan ini dilakukan secara berulang-ulang selama kurang lebih 60 menit. Bila otot-otot telah mencapai keadaan rileks yang sungguh-sungguh, maka keadaan ini akan mengurangi ketegangan emosional juga menurunkan tekanan darah serta denyut nadi. Karenanya pada saat-saat tengan, orang sedapat mungkin memusatkan perhatiannya pada relaksasi otot dengan cara seperti diatas (S. horn;1986)
b.    Mencari sumber stress, kecemasan dan prustasi itu sendiri.
Disini peran pelatih besar sekali. Hubungan hati-kehati antara atlet dan pelatih akan memungkinkan pelatih mengorek apa yang sebenarnya sedang dialami oleh atlet. Demikian atlet juga akan dengan terbuka menceritakan apa yang sedang dialami.
c.    Pembiasan/berlatih
Cara ini dimaksudkan untuk melatih atlet menghadapi situasi-situasi yang bisa timbul dalam pertandingan. Bentuk paltihan pembiasaan adalah dengan simulasi. Yaitu dalam latihan sengaja diabut situasi yang dapat menimbulkan ketengangan dalam batas-batas tertentu. Dengan cara ini atlet tidak lagi peka (sensitif) terhadap pengaruh lingkungan.
o   Berlatih dalam gedung dengan pentilasi yang kurang baik sehingga sirkulasi udara didalamnya sangat menggangu.
o   Berlatih dilapangan dengan kondisi yang berbeda-beda, misalnya; permukaan tidak rata, licin, terbuat dari bahan sintetis dan sebagainya.
o   Berlatih dengan berbagai alat yang berbeda kualitasnya, misalnya berbagai merek shuttlecock, bola volley, bola basket, bola tennis.
o   Berlatih dialam (daerah) dengan cuaca atau suhu yang berbeda-beda, misalnya; didataran dengan lapisan udara yang tipis atau didataran tinggi, didaerah dengan panas yang menyengat dan sebagainya.
o   Berlatih dalam rungan dengan sistem penerangan yang kurang memenuhi sarat.
d.    Teknik-teknik khusus.
Penangan ketegangan dengan menggunakan teknik khusus itu lebih menekankan pada pendekatan individual, misalnya;
o   Melalui music yang menjadi kegemaran atlet yang sedang mengalami ketegangan atau kecemasan.
o   Menanamkan dan memperkuat keyakinan atlet bahwa persiapan yang mereka lakukan sudah mantap dan menyeluruh.
o   Menjauhkan atlet dari official yang pencemas.
o   Menjelaskan kepada atlet bahwa ketegangan/kecemasan dalam pertandingan adalah wajar. Bahkan dalam batas-batas tertentu hal itu memang diperlukan.

D. Stress, Kecemasan dan Frustasi dalam Pertandingan
Menurut scanlan (1984) dalam tulisnya yang berjudil: “kompetitif stress and the child atlet” yang dimuat dalam buku “psikologikal foundation of sport” mengemukakan bahwa “competitive stress” atau stress yang timbul dalam pertandingan merupakan reaksi emoasional yang negative pada anak apabila rasa harga dirinya menrasa terancam. Hal seperti ini terjadi apabila atlet yunior menganggap pertandingan sebagai tantangan yang berat untuk dapat sukses, mengingat kemampuan penampilannya, dan dalam keadaan seperti ini atlet lebih memikirkan akibat dari kekalahannya.
Stress selalu akan terjadi pada diri individu apabila sesuatu yang diharapkan mendapat tantangan sehingga kemungkinan tidak tercapainya harapan tersebut menghantui pemikirannya. Stress adalah suatu ketegangan emosional, yang akhrinya berpengaruh terhadap proses-proses psikologis maupun proses fisiologik.
Spielberger (1986) dalam tulisnya mengenal “stress & Anxiety in sport” dalam kumpulan karya ilmiah yang dihimpun oleh morgan berjudul “sport psychology” menegaskan bahwa stress menunjukan “psychological proses” yang kompleks, dan proses ini pada umumnya terjadi dalam situasi yang mengandung hal yang dapat merugikan, berbahaya, atau dapat menimbulkan frustasi (streesor).
“Stressor” menurut Spielberger (1986) menunjukan situasi-situasi atau stimuli yang secara objrktif ditandai dengan adanya tekanan fisik atau psikologi atau bahaya dalam suatu tingkat tertentu. Situasi penuh stress akan ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, dalam tingkat-tingkat yang berbeda dalam perkembangan manusia.
Reaksi yang berbeda akan muncul dalam menghadapi “stressor”, tergantung pada situasi tertentu yang diperkirakan mengandung ancaman. Ancaman juga berkaitan dengan persepsi dan penilaian individu terhadap situasi yang dihadapi sebagai hal yang dapat merugikan dan mengandung bahaya. Dalam hubungannya dengan aktifitas olahraga, khususnya kemungkinan terjadinya stress menghadapi pertandingan maka permasalahannya sangat banyak tergantung pada diri atlet yang bersangkutan.
Mengenai timbulnya stress, Gauron (1984) berkesimpulan:
1. “Because stress is an inevitable part of life, it can’t be a volded”.
2. “Since stress is inevitable individual must reduce it’s effect and cope through”.
3. “Chronic stress may have adverse effect you upon the body particularly if it isn’t thought to relax”
Mungkin sekali suatu situasi yang sama dapat dirasakan sebagai ancaman bagi seorang atlet, tetapi hanya merupakan tantangan bagi atlet lain, dan mungkin bahkan tidak berarti apa-apa bagi atlet lain. Jadi dari pengalaman-pengalaman mengenai ancaman, ada hubungannya dengan keadaan mental atlet yang bersangkutan.
Namun jikalau hal itu tidak dapat segera diatas dan malah semakin menggangu atlet itu sendiri maka apa yang dicemaskan akan menjadi nyata dan menyebabkan ia kehilangan keseimbangan emosi. Keadaan seseorang yang kehilangan keseimbangan emosi biasanya mengarah pada ekspresi kejasmanian, sehingga orang lain dapat mengatahui hahwa atlet tersebut sedang mengalami emosi. Namun demikan kadang-kadang ada atlet yang dapat mengontrol keadaan dirinya sehingga emosi yang dialami tidak tercetus keluar dengan perubahan atau tanda-tanda kejasmanian tersebut. Hal ini berkaitan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Ekman dan Friesen (Carrson ; 1987) yang dikenal dengan Display rules. Menurut mereka adanya 3 rules yaitu Masking, modulation dan simulation.
Masking adalah keadaan seseorang yang dapat menyembunyikan atau dapat menutupi emosi yang dialaminya. Emosi yang dialaminya tidak tercetus keluar melalui ekspresi kejasmaniannya. Misalnya seorang atlet yang sangat sedih dikarenakan kehilangan gelar yang semsetinya dapat dia raih. Kesediahan itu dapat diredam atau ditutupi, dan tidak ada gejala kejasmanian yang menyebabkan tampaknya rasa sedih tersebut. Pada modulasi (modulation) orang tidak dapat meredam secara tuntas mengenai gejala kejasmaniannya, tetapi hanya dapat mengurangi saja. Jadi misalnya karena sedih, ia menangis (gejala kejasmanian) tetapi tangisnya itu tidak begitu mencuat-cuat. Pada simulasi (simulation) orang tidak mengalami emosi, tatapi dia seolah-olah mengalami emosi dengan menampakkan gejala-gejala kejasmanian.











BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Dari pembahasan diatas maka kami menarik kesimpulan yaitu sebagai berikut:
Olahraga adalah suatu kegiatan yang bukan saja bersifat jasmaniah, melainkan merupakan kegiatan sebagai suatu totalitas;
Dalam diri seorang atlet terdapat faktor-faktor psikologis yang mendukung atau menghambat penampilan atlet itu sendiri.
Stress, kecemasan dan frustasi merupakan keadaan yang selalu mencul kepermukaan ketika menghadapi even yang kopetitif.
Pelatih mempunyai peranan penting dalam menjaga kondisi psikologis atlet.

B.Saran
Dari pembahasan dan kesimpulan diatas maka kami memberikan saran yaitu sebagai berikut:
1. Mengingat semakin kerasnya even olahraga yang semakin kompetitif, setiap atlet harus dapat meningkatkan kemampuan tAknik dengan dibarengi oleh bekal psikologis yang memadai.
2. Agar pembekalan psikologis itu efektif maka lingkungan yang ada di sekitas atlet harus dapat mendukung keberadaan atlet itu sendiri.
3.  Untuk mengatasi stress, kecemasan dan frustasi, atlet harus dapat beradaptasi dengan lingkungan pertandingan itu sendiri, serta didukung oleh faktor-faktor penunjang lain.























DAFTAR PUSTAKA
Gunarsa, Singgih dkk. 1987. Psikologi Olahraga. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.
Nasution, Noehi dkk. 1992. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Depdikbud.
Payitno, Elida. 1991. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Depdikbud.
Sutyobroto, Sudibyo. 1989. Psikologi Olahraga. Jakarta: Copyright.
Wargito, Bimo. 1989. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andy Yogyakarta
Orlick, Terry. (1998). How to Manage Stress. USA: Mind Tool Ltd.           
Satiarsiatun (2003). Hubungan Self-Esteem, Motivasi Berprestasi dengan Coping  Stress: Tesis. Tidak Diterbitkan.
Scanlan, T.K. Stein, G.L., & Ravizza, K. (1991). An in-depth Study of Former        Elite Figure Skaters: III Sources of Stress. Journal of Sport & Exercise     Psychology, 13, 102-120.
Atikison L. Rita, dkk (1983). Pengantar psikologi. Jakarta : Erlangga.
Kartini Kartono. (1981). Gangguan-gangguan Psikologi Olahraga. Jakarta : Pustaka Sinar Harapan.
Singgih D. Gunarso. (1996) Psikologi Olahraga Teori dan Praktek. Jakarta: Gunung Mulia.













Agresivitas dalam olahraga

Agresivitas, Perilaku Agresif Serta Pengendalian Agresivitas Dalam Olahraga
Oleh
Guntur Firmansyah
(Prodi Pend.Jas.Kes.& Rekreasi, FPIEK, IKIP BUDI UTOMO, Malang)
Abstrak : Sifat agresif hanyalah merupakan salah satu sifat dari individu. Kecenderungan sifat agresif pada pemain menjadi tindakan yang positif dan dibutuhkan untuk memenangkan pertandingan atau bisa sebaliknya bisa merusak dan menjadi tindakan destruktif, sangat bergantung dari sifat-sifat dan kepribadian lainnya yang ada pada indivdu tersebut. 
Kata Kunci : Agresif, individu, destruktif
Pendahuluan
Agresifitas adalah istilah umum yang di kaitkan dengan adanya perasaan –perasaan marah atau permusuhan atau tindakan melukai orang lain baik dengan tindakan kekerasan secara fisik, verbal maupun menggunakan ekpresi wajah dan gerakan tubuh yang mengancam atau merendahkan. Tindakan agresif pada umumnya merupakan tindakan yang di sengaja oleh pelaku untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Ada 2 tujuan utama agresif yang saling bertentangan satu dengan yang lain, yakni untuk membela diri di satu pihak dan di pihak lain adalah untuk meraih keunggulan dengan cara membuat lawan tidak berdaya. 
Agresifitas yang wajar.  T idak setiap tindakan agresif merupakan perilaku yang bermasalah. Agresif mungkin muncul sebagai pelampiasan perasaan marah dan frustasi. Bila agresifitas muncul karena kondisi psikologis yang bersifat temporer dan dipahami berdasarkan konteks situasi yang dihadapi anak maka itu merupakan tindakan yang masih bisa diterima. Justru ketidakmampuan seorang anak untuk mengekspresika dorongan agresif pada situasi-situasi tertentu merupakan indikasi adanya permasalahan perkembangan pada dirinya. Mungkin itu merupakan akibat dari mekanisme hambatan yang berlebihan yang secara psikologis tidak terlalu sehat untuk perkembangan selanjutnya.  Agresifitas yang tidak wajar. Namun ada kecenderungan agresifitas yang bersifat menetap pada anak tertentu. Secara umum kecenderungan ini menandakan kepribadian yang agresif. Ini menandakan kepribadian yang agresif merupakan perkembangan kepribadian. Dampak negatif pada diri sendiri dan pada lingkungan cukup serius. 
Upaya untuk mendefinisikan agresif telah banyak dilakukan oleh para ahli. Sebagian dari definisi tersebut dapat dirangkumkna bahwa agresivitas adalah beberapa bentuk atau serangkaian perilaku yang bertujuan untuk membahayakan atau mencederai orang lain(Dolar, Miller, Do’ob, Mourer & Sears, 1939; Boron, 1991)Definisi agresif seperti itu sering digunakan interchangeably dengan istilah hostility pada satu sisi, padahal sebenarnya sangat berbeda dari segi maknawi dengan istilah asertif atau agresif sebagai tindakan yang sering muncul pada praktik olahraga disisi yang lain yang justru dibutuhkan untuk menampilkan keterampilan secara efektif dalam kompetisi olahraga.
R. H. Cox (1985) mengelompokkan tindakan agresif kedalam dua kategori. Pertama,Hostility Aggresion yaitu tindakan agresif yang disertai permusuhan dan dilakukan dengan perasaan marah serta bermaksut melukai orang lain atau lawan bertanding (Marcoen, 1999). Kedua, Instrumental Aggresion, yaitu perilaku agresif yang dijadikan sebagai alat untuk memenangkan pertandingan, tanpa bermaksut melukai orang lain atau kawan bertanding.
Rujukan teori yang dapat digunakan untuk memahami tentang agresivitas adalah Teori Naluri (Instinc Theory).Teori Agresif-Frustasi (Frustration-Aggresion Theory) dan Teori Belajar-Sosial (Social-Learning Theory).
Teori Naluri (Instinc Theory). Teori ini berpijak dari tulisan Sigmund Freud dan Konrad Lorenz, menurut Freud (1950) Teori ini menyatakan tindakan agresif dipandang sebagai dorongan yang dibawa sejak lahir seperti halnya dorongan seksual dan rasa lapar.Teori Agresif-Frustasi (Frustration-Aggresion Theory) (Dolar, Miller, Do’ob, Mourer & Sears, 1939)  Teori ini menyatakan bahwa frustasi selalu menyebabkan tindakan agresif dan sebaliknya keagresifan selalu disebabkan oleh frustasi.Teori Belajar-Sosial (Social-Learning Theory) Teori yang digulirkan Bandura (1989)  ini berpandangan bahwa tindakan agresif adalah adalah sebuah respon atau perilaku yang dapat dipelajari, bukan karena adanya dorongan naluriah maupun frustasi. Selanjutnya Bandura (1989) menyebutkan bahwa tundakan agresif menunjukkan“circular effects” yang artinya bahwa tindakan agresif akan mendorong tindakan-tindakan agresif lainnya.

Perilaku Agresif dalam Olahraga
Orang yang agresivitasnya kurang terkontrol kemungkinan lebih besar melakukan tindakan kriminal kekerasan, karena ia tidak bimbang melakukan kekerasan pada waktu marah. Dalam upaya memahami agresivitas, Worchel dan Cooper (1970) mengemukakan kasus Charles J. Whitman pada usia 12 tahun ia adalah pandu garuda, kemudian menjadi pitcher time base ball disekolah gereja dimana dia bergabung. Ia dikenal sebagai pemuda yang menyukai anak-anak kemudian menjadi mahasiswa jurusan teknik arsitektur. Dilaporkan oleh majalah Newsweek, pada tanggal 5 Agustus 1966.Ia telah membantai 13 orang dan melukai 31 orang di menara Universitas Texas dengan senjata revolver sebelum ditembak oleh polisi. Whitman sebelumnya telah membunuh isteri dan ibu kandungnya.
 Perlu diketahui bahwa Whitman dibesarkan dalam keluarga yang diliputi situasi penuh ketegangan, Ayahnya seorang perfeksionis, dan berdisiplin serta selalu menuntut anaknya mengerjakan sesuatu yang besar, serta tidak jarang member hukuman apabila anaknya tidak menurut. Dari kasus diatas bias dilihat bahwa Whitman memiliki kepribadian yang agresivitasnya selalu dikontrol dengan ketat, dapat diduga bahwa ia selalu mengontrol tingkah laku namun selama itu rasa marah dan kecewa terus berkembang dalam dirinya sehingga tidak terkendali dan akhirnya meledak yaitu dalam bentuk tindakan ekstrim berupa kekerasan.
Lebih lanjut Worchel dan Cooper membedakan dua tipe kepribadian yaitu (1) yang agresifitasnya kurang terkontrol dan (2) yang agresivitasnya selalu dikontrol dengan ketet.ipe kepribadian yang agresivitasnya kurang terkontrol menunjukkan kurangnya larangan terhadap pengungkapan tingkah laku agresif dan kecenderungan untuk mengadakan respons terhadap frustasi dan tindakan agresif.Tipe kepribadian yang agresivitasnya selalu dikontrol ketat, menunjukkan adanya kontrol yang ekstrim kuat terhadap pengungkapan agresivitas dalam berbagai kondisi.   
Tindakan agresif cenderung terjadi pada situasi yang tidak seimbang atau berlawanan.Pada atlet umumnya terikat pada beberapa kelompok social, seperti keluarga, sekolah, teman latihan, teman bergaul dan sebagainya. Tindakan agresif akan tertuju pada orang yang tidak disenangi atau yang berlawanan. Misalnya atlet dimarahi oleh pelatihnya dia tidak berani melawan pelatihnya tetapi dia akan bertindak agresif dengan menyerang temannaya atau lawannya.
Pemain yang agresif pada situasi tertentu sangat diperlukan untuk dapat memenangkan pertandingan.Seperti dalam sepak bola, bela diri dan sebagainya.Tetapi sifat-sifat agresif tersebut apabila tidak terkendali justru dapat menjerumuskan dan mengarah pada tindakan-tindakan berbahaya misalnya melukai lawan, melanggar peraturan serta mengabaikan sportivitas.Niat untuk menyerang secara agresif tidak disertai rasa marah.Tindakan agresif demikian jelas bukan disebabkan oleh karena frustasi. Tindakan agresif yang bukan karena frustasi diantaranya dapat terjadi berupa gejala-gejala :
1.      Tindakan agresif instrumental
Tindakan agresif yang tidak disertai rasa marah.
2.      Tindakan agresif karena meniru
Misalnya tindkan agresif karena meniru tokoh gangster yang suka menyerang dan melukai orang lain.
3.      Tindakan agresif atas dasar perintah
Sering terjadi dalam olahraga bela diri misalnya karena inisiatif menyerang akan mendapat penilaian lebih dari wasit.
4.      Tindakan agresif dalam hubungannya dengan peran sosial
Dapat dilihat pada tindakan agresif yang dilakukan penjaga keamanan yang harus bertindak tegas  dan jika perlu dengan kekerasan.

5.      Tinddakan agresif karena pengaruh kelompok
Pengaruh penonton atau tim juga dapat merangsang dan menimbulkan gejala agresif. Tindakan agresif pemain karena pengaruh penonton sering terjadi. Hal ni dapat dilihat bagaimana tindakan dia sebagai bagian dari kelompok dan tindakan dia manakala dia bertindak sendiri.
Dari uraian tersebut maka dapat dikemukakan bahwa tindakan agresif seseorang atau atlet tidak harus dihubungkan dengan gejala frustasi.Kita membutuhkan pemain yang agresif untuk dapat memenangkan suatu pertandingan.Oleh karena itu, menjadi kewajiban pembina dan pelatih untuk memanfaatkan sifat-sifat agresif dari atletnya sehingga dapat tersalur dan terarah sesuai dengan aktivitas olahraga yang diikutinya.

Pengendalian Agresivitas dalam Olahraga  
Sifat agresif yang dimiliki pemain yang juga memiliki kesetabilan emosional, disiplin, rasa tanggung jawab yang besar, tidak akan menjadi masalah dalam pengarahannya. Pelatih dapat menyiapkan atlet tersebut untuk bermain agresif dengan tidak perlu khawatir bahwa ia akan melukai lawan dan bertindak desttruktif dalam upaya untuk mencaoai tujuan atau memenangkan pertandingan. Dengan memberikan dorongan, pemberian stimulus yang positif dan sebagainya. Atlit akan bermain agresif tanpa mengalami frustasi.
Bertitik tolak dari “social-learning Theory”yaitu pemain akan meniru dan belajar dari pengalaman pemain lainnya maka pelatih harus menyiapkan pemain dengan petunjuk dan langkah praktis sebagai berikut :
1.      Anjuran untuk bermain agresif harus terarah, kapan da bagaimana cara yang tepat agar tidak menimbulkan hal-hal negative dan melukai lawan.
2.      Bermain agresif harus disertai peningkatan penguasaan diri agar dapat selalu mengontrol diri sendiri.
3.      Bermain agresif harus disertai disiplin dan rasa tanggung jawab, yaitu selalu mematuhi peraturan dan tunduk pada keputusan wasit serta dapat mempertanggungjawabkan tindakannya.
4.      Perlu adanya pemberian penghargaan bagi mereka yang bertindak agresif tetapi tidak melukai lawan, memelihara sportivitas dan sebaliknya berikan hukuman apabila berusaha melukai lawan atau tindakan tercela dan melanggar peraturan.
Dalam upaya mengendalikan tindakan kekerasan atau agresivitas yang menyimpang, dikemukakan Richard H. Cok sebagai berikut :
1.      Atlet-atlet mudah harus sudah diberi pengetahuan tentang contoh tingkah laku non agresif, penguasaan diri, dan penampilan yang benar.
2.      Atlet yang terlibat tindakan agresif harus dihukum. Harus disadarkan bahwa tindakan agresif dengan melukai lawan adalah tindakan yang tidak dibenarkan.
3.      Pelatih yang memberi kemungkinan para atlet terlibat dengan kekerasan harus ditelitih dan harus dipecat dari tugasnya sebagai pelatih.
4.      Pengaruh dari luar yang memungkinkan terjadinya tindakan agresif dengan kekerasan dilapangan pertandingan harus dihindari.
5.      Para pelatih dan wasit didorong dan dianjurkan untuk menghindari lokakarya-lokakrya yang membahas tindakan agresif dn kekerasan.
6.      Disamping hukuman terhadap tindakan agresif dengan kekerasan atlet harus didorong secara positif meningkatkan kemampuan bertindak tenang menghadapi situasi-situasi emosional.
7.      Penguasaan emosi menghadapi tindakan agresif dengan kekerasan harus dilatih secara praktis antara lain melalui layihan mental

Simpulan dan Saran
Semua orang mengerti bahwa tindakan agresif, adalah tindakan yang tidak terpuji, maka orany yang memiliki keperibadian yang kuat tidak mudah untuk dipengaruhi untuk berbuat agresif. Mereka yang mengalami “emotional enstability“ atau ketidakstabilan emosi, karena perasaan marah dan perasaan negatif lainnya mudah dipengaruhi, dan mudah mendominasi perasaan yang lainnya. Individu yang memilikiemotional instability yang tidak mudah marah, mudah benci, mudah kecewa, mudah bingung, mudah kesal, dsb. Karena emosinya mudah terombang ambing, maka gejala emosional tersebut akan mengganggu fungsi jiwa yang lain. Sebagaimana diketahui bahwa jiwa kita merupakan kesatuan yang organis, dimana sumber kemampuan jiwa yang satu dapat mempengaruhi sumber kemampuan jiwa yang lain. Karena itu goncangan emosional akan mempengaruhi pertimbangan akal, sehingga individu tersebut akan bertindak tidak sesuai dengan akal sehat.
Individu yang menunjukkan gejala kematangan emosional atau “emotional maturity ” dapat meredam goncangan-goncangan emosional sehingga dapat tenang, dan dapat menjalankan fungsi akalnya dengan baik.Secara umum, individu yang memiliki kemarahan tinggi tiga kali lebih mungkin untuk mengembangkan angina atau serangan jantung dibandingkan orang yang memiliki kemarahan rendah, bahkan setelah pengaruh berisiko seperti faktor genetik, alkohol, berat badan, kolesterol, hipertensi dan merokok diperhitungkan pada rendah -kemarahan individu. Hal ini mencerminkan pengalaman banyak psikolog dan dokter yang menemukan korelasi langsung antara risiko kesehatan secara keseluruhan dan kemarahan intens.Secara umum, individu yang memiliki sikap bermusuhan berisiko tinggi menderita penyakit lain juga.Hal ini terjadi karena alasan seperti kesenangan untuk perilaku berisiko dan peningkatan aktivitas biologis ketika sangat marah dan mengalami dukungan sosial yang rendah.
Suasana kompetisi dan kelas pendidikan jasmani dan olahraga kerap kali menjadi media potensial yang mendorong perilaku terjadinya perilaku agresif. Perilaku ini dalam kadar yang sesuai sangat perlu dimiliki oleh para pemain untuk dapat memenangkan pertandaingan misalnya pertnadingan sepak bola, tinju dan lain-lain. Tetapi jika berlebihan dan tidak terkendali dapat menjurus pada tindakan-tindakan yang tidak diinginkan, berbahaya, mencederai lawan, melanggar peraturan, tidak fair play, bahkan dapat berakibat fatal. Tindakan agresif tidak sama peluangnya pada setiap cabang olahraga dan setiap atlet.
Beberapa rekomendasi untuk upaya mengendalikan agresifitas antara lain :
a)      Teknik time out.
b)      Memberikan pemahaman dan contoh perilaku non agresif sebagai metode konstruktif untuk memecahkan masalah.
c)      Menciptakan atau mendesain lingkungan belajar atau lingkungan latihan yang kondusif.
d)      Memberikan latihan empati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar